Percayalah tiap manusia memiliki jalan cintanya sendiri. Dan kita bisa merenungi bagaimana jalan cinta yang sedang kita jalani sambil menikmati goyang maut seorang Dian Sastrowardoyo. Saya sendiri sampai “glekk” melihat liukan seksi Dian Sastro dalam sebuah adegan di atas panggung dangdut, sambil ingat ortu di rumah, dan menyadari betapa berharganya masih memiliki ortu.
Saya rasa orang lain yang menonton film 3 Doa 3 Cinta ini juga akan merasakan sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan yang saya rasakan saat menonton film tersebut. Mungkin sesekali kita juga akan terpingkal menyaksikan beberapa adegan satir yang sebenarnya sangat menohok prilaku kita sehari-hari. Seperti ketika Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) mencium Huda (Nicholas Saputra) dan Huda mengucapkan kalimat istighfar. Adegan tersebut sepertinya sangat lucu, tapi begitulah adanya kehidupan seorang santri.
Itu hanya sepenggal kehidupan santri ala Huda, yang sejak umur 11 tahun ditinggalkan ibunya di pesantren. Cinta Huda akan ibunya inilah yang mempertemukan dia dengan Dona Satelit. Mengetahui Dona Satelit pernah tinggal di Jakarta, Huda yang menyimpan alamat ibunya langsung meminta batuan Dona untuk mencarikan alamat tersebut. Kisah Huda dan Dona mengalir dan membawa kita untuk menebak akhir bahagia dari perjalanan cinta tersebut, tapi film ini memberi akhir yang berbeda dengan sangat cerdik.
Agak mirip dari jalan cinta Huda, adalah jalan cinta Rian (Yoga Pratama). Jika Huda merindukan kehadiran ibunya, Rian merindukan kehadiran ayahnya yang telah meninggal. Rian menemukan sosok ayahnya tersebut dalam diri Pak Toha (Butet Kertarajasa) seorang pemutar proyektor layar tancap. Keinginan Rian meneruskan bisnis video syuting yang telah dirintis bapaknya lah yang menemenukan Rian dengan Pak Toha dalam sebuah pasar malam di dekat lingkungan pesantren.
Jalan cinta ketiga adalah jalan cinta Syahid (Yoga Bagus). Digambarkan sebagai anak baik-baik yang tidak banyak polah, Syahid memiliki latar belakang dari keluarga yang miskin. Hidup Syahid sangat kekurangan, bahkan untuk makan saja Sahid banyak menerima bantuan dari temannya. Ditambah sakit keras yang diderita ayahnya lengkap sudah penderitaan seorang Sahid. Biaya berobat yang tidak terjangkau, membuat Sahid putus asa, dia bergabung dengan kelompok muslim garis keras. Cerita Sahid inilah yang seolah memberi jawaban, latar belakang pelaku bom Bali.
Film yang penulis naskah dan sutradaranya Nurman Hakim ini, mampu menyatukan tiga jalan cinta tersebut dalam rangkaian yang apik dan brilian. Mereka bertiga bersahabat tapi memiliki jalan cintanya sendiri. Selain itu, film ini juga tidak hanya mampu menampilkan kehidupan pondok pesantren secara apik tapi juga mampu memotret kehidapan masyarakat Indonesia secara brilian. Dan yang juga penting, film ini mampu mengaitkan potret kehidupan tersebut dengan issue hangat yang belum sepenuhnya terjawab. Film ini seolah memberi jawaban bagaimana latar belakang pelaku bom bunuh diri. Jadi, rugi besar jika kita tidak menonton film diprodeseri tiga orang sekaligus ini, Nan T. Achnas, Adiyanto Sumarjono, dan Nurman Hakim.
Foto diambil dari sini

wah,makasih mas sudah mau nonton pilm saya..
wah ada mas Nicholas Supepeng
dian lagi.. dian lagi…
lah terus chessy km kemain
*starter jogjig
Maturnuwun ya mas
wah aku durung ndelok pilem iki,.,,
wah kliatannya bagus
*menunggu untuk diputar di tv*
Ini perlu ditonton bareng2 nih…
percaya gw kalo ada jalan tersendiri untuk cinta. hehehe.
Out Of Topic: I just want to say… HAPPY NEW YEAR 2009!!!
glekk.. astaghfirullah..
hhmmm… masih belum sempet liat..
tapi resensinya semakin bikin saya tergoda untuk nonton nih…
^_^
oya mas, makasih dah jalan2 ke tempat saya…
ceweknya cakep,,heee
Sepertinya worth it untuk ditonton nih…
Ini pasti Dian Effect apalagi nontonnya bareng kaum Betmen, lengkap sudah :p
Tapi rugi kamu niff, bentar lagi mau diputar tu sama S*TV
itu memang tiga jalan yang berliku ya pak munif..
Sumpe.. cakep banget modelnyaa…
salam kenal…
saya nyesel nonton film ini, udah dibilangin temen ga bagus, eh ndak percaya
Wuah, gimana ya jika dibandingkan dgn goyangannya Ine??
‘Glekk’ juga kah??
kethok’e kok apik film iki, la wong para bintangnya dah pada kasih komenk.. hahahahahaha
Wualooo cak Munip..!!
kisah cinta yang unik…
hm………….
muantab
hm…
salam kenal…
wah…saya memang ketinggalan film2 lokal…he…luar juga ding…sepertinya perlu di tonton film ini…
Adegan Dona Satelit yang mencium Huda mungkin sama gelinya kayak waktu Marsha Timothy mencium Bambang (Tora Sudiro) pada Otomatis Romantis?
hwehehehe.. jadi penasaran.
Kpan diputer di tipi?
*nyungsep*
Wakakakak mbuh ah.marahi ngiler……….huahuahuahua
udah liat filmku belum,,,liat dulu sanahhh
lanang kok senengane film menye menye…
*setel ulang film lord of the ring*
tiga jalan cinta terusss.. ra ganti2..
ngefan2 ma dian sastro.. tp yo mbok yo di apdet blogmu iki nif..
akeh banget
gimana klo satu cinta untuk 1 hati.. yaitu kekasih tercinta… hahaha
Very educating write up, saved the blog with hopes to read more!
This informal post helped me a lot! Saved the website, extremely great topics everywhere that I read here! I really like the info, thank you.
Informative post, saved your website for hopes to see more information!
Different people in the world get the mortgage loans in various creditors, because that’s comfortable and fast.